Sunday, January 1, 2017

Karya Lama Di Era Baru


Oleh
Malinda Cici Pudyastuti

Dari sekian banyak kesenian yang menjadi icon negeri ini, Jathilan merupakan salah satu aset bangsa yang dipertahankan untuk memajukan Negara Indonesia di antara persaingan globalisasi dunia yang semakin merebak. Lalu, apa itu Jathilan?

Jathilan adaah sebuah kesenian tari sejenis Kuda Lumping. Namun, di Daerah Istimewa Yogyakarta, kesenian Kuda Lumping memiliki sebutan ‘Jathilan’. Menurut beberapa pendapat, istilah Jathilan berasal dari kata ‘jaran’ (bahasa Jawa : Kuda) dan ‘thil-thilan’ (bahasa Jawa : tidak beraturan). Apabila digabungkan maka akan menghasilkan kalimat ‘jarane thil-thilan’ yang memiliki arti kudanya tidak beraturan pengertian tersebut dikaitkan dengan satu adegan yang menjadi identitas dalam pertunjukan kesenian Jathilan yaitu in trance. Pada adegan itulah beberapa atau bahkan seluruh penari mengalami kerasukan dan akan bertingkah laku tidak karuan.

Salah satu organisasi yang terlibat sebagai salah satu pelestari kesenian yaitu Paguyuban Jathilan Mardi Raharjo. Organisasi tersebut berdomisili di Dusun Metes Desa Argorejo Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan dipimpin oleh Bapak FX. Widi Hartono pada periode saat ini, Paguyuban Jathilan Mardi Raharjo telah hampir berjuang mempertahankan kesenian Jathilan selama kurun waktu 65 tahun. 

Sama halnya seperti organisasi kesenian lainnya, terhitung hingga tahun 2016, Paguyuban Jathilan Mardi Raharjo memproduksi 5 karya tari di antaranya yaitu tari Jathilan Lawas, tari Kudha Jati Pitutur, tari Kudha Pideksa, tari Suminten Edan dan tari Gagak Rimang. Karya-karya tersebut dikemas apik dengan tetap berpijak pada dasar-dasar tari Jathilan atau tari Kuda Lumping pada umumnya.

Dari beberapa karya tersebut, tari Jathilan Lawas merupakan satu-satunya tari yang memiliki daya tarik tersendiri. Tari tersebut ditarikan oleh 8 orang laki-laki berusia lanjut dengan menggunakan kuda buatan yang berasal dari anyaman bambu sebagai propertinya. Lalu apa yang menarik?

Sebenarnya, tari Jathilan Lawas tidak hanya dimiliki oleh Paguyuban Jathilan Mardi Raharjo. Akan tetapi tari tersebut juga dimiliki oleh beberapa paguyuban kesenian Jathilan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengapa? 

Jathilan Lawas merupakan jenis Jathilan pertama yang dikenalkan di kalangan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada dasarnya, jenis Jathilan Lawas memiliki kesamaan aspek-aspek pertunjukan dengan Jathilan pada umumnya. Yang membedakan yaitu, jika pada jenis Jathilan masa kini telah dikemas menjadi pertunjukan yang menarik dari segi koreografi, tat arias dan busana serta iringan, maka pada jenis Jathilan Lawas segala bentuk aspek pertunjukannya belum banyak tersentuh oleh garap pengembangan.

Misalnya, pada koreografi Jathilan Lawas, gerakan-gerakannya terkesan monoton karena sering mengalami pengulangan. Selain itu apabila diamati, para penari tidak menggunakan power tubuhnya secara utuh. Kemudian pada tata riasnya hanya bertujuan agar wajah tidak pucat. Sementara tata busananya belum terlalu mengalami perkembangan modern. Hanya mengenakan baju dengan kombinasi kain batik dan aksesoris-aksesoris tari sederhana. Lalu pada bagian iringan masih menggunakan instrument-instrumen sederhana seperti kendhang batangan, angklung, kecrekan, bendhe, kempul dan gong. Berbeda jauh dengan iringan Jathilan masa kini yang mulai menggunakan instrument-instrumen tambahan sebagai pengembang garap iringan agar terdengar lebih menarik seperti kendhang Jaipong, drum, bonang, demung, saron dan slompret. 

Namun apabila dipelajari secara lebih mendalam, maka kesederhanaan itu menjadi daya tarik memikat. Seperti halnya pada Paguyuban Jathilan Mardi Raharjo yang masih senantiasa mementaskan pertunjukan Jathilan Lawas. Pertunjukan tersebut biasanya dipentaskan pada perayaan HUT Paguyuban Jathilan Mardi Raharjo yang jatuh bertepatan dengan HUT RI. Selain itu, pada bulan Syura, sesekali Jathilan Lawas dipentaskan lengkap dengan sesaji sebagai tradisi budaya Jawa.

Dimasa kini, ketika hampir seluruh organisasi kesenian rakyat berbondong-bondong bersaing ketat dalam menggarap karya seninya secara lebih modern, maka Jathilan Lawas tetap tampil dengan ke’jadul’annya. Namun disitulah letak identitas yang patut diberikan penghargaan tinggi. Karena melalui pertunjukan Jathilan Lawas, masyarakat masih diingatkan kepada akar/sumber/dasar yang merupakan pijakan lahirnya generasi-generasi karya Jathilan yang kini berhasil menjadi icon kebanggaan negeri.

Seorang INTROVERT yang Menyukai Dunia Blogging Di akhir tahun 2015 samapi dengan sekarang, yang sedang Belajar  Mengenal Dunia Blogging dan Harapan Ingin Menjadi Seorang "Blogger Profesional & Blogger Preneur". (23/8 bangoji.net)

Silahkan Berikan Komentar Relevan Untuk Artikel Ini
¤ Tidak Nyepam
¤ Tidak Promosi
¤ Tidak Menyematkan Link Aktif

Akan dihapus Spam, Promosi dan Link Aktif

*Diperbolehkan Untuk Diskusi dan Sharing Dikolom Komentar
EmoticonEmoticon