Tuesday, May 17, 2016

Rahasia Beternak Ide

Oleh : Faqih Adz dzaky

"Rahasia Berternak Ide"

Man teman sekalian...pasti semua sudah tahu dengan satu makanan ini. Eh..bukan makanan. Tapi makhluk peliharaan. Ya. Makhluk peliharaan kita sekarang bernama "ide".

Kenapa saya sebut dengan makhluk peliharaan? Ada beberapa persamaan di antaranya:
- Sama-sama bisa diternak
- Sama-sama bisa dijual
- Sama-sama bisa dikembangbiakan
- Sama-sama bisa sakit
- Dan sama-sama bisa diobati

Okelah...daripada berpanjang kata, saya langsung bahas saja. Tentu biar segera take action agar hewan peliharaan kita cepet gede dan juga bisa segera dipanen. Biar bisa menikmati hasilnya.

Sebuah ide layaknya binatang buruan. Atau binatang peliharaan yang masih liar. Maka tak mungkin kita mau menernaknya dengan baik jika dibiarkan begitu saja. Ide atau gagasan yang masih dalam khayalan, kata kamus bahasa indonesia, ia juga seperti burung yang hingar-bingar di sekitar rumah kita. Datang tak diundang, pergi tak diusir. Seperti ide, ia melesat begitu saja. Menerobos angan tanpa pamit. Kabur pun tanpa permisi.

Maka tahap pertama sebelum kita ternak, ide harus kita tangkap terlebih dahulu. Bagaimana menangkapnya? Tentu nggak usah terlalu teoritis. Nggak perlu pake ribet. Tinggal melihat kondisi, keahlian, kemampuan dan juga amunisi.

Jangan sampai kita mau nangkap pakai ranjau, kalau yang kita pegang itu ketapel. Atau sudah megang jaring malah nyari panah. Karena pasti si ia akan kabur duluan. Gak jadi deh diternak. So, gunakan amunisi yang ada.

Jangan menunggu buka laptop jika ide datang saat di toilet. Jangan nunggu ke warnet jika ide nongol lagi di atas mobil. Atau nunggu buka android padahal lagi ngantri di bank dan batrai sudah ngedrop. Maka, kalau lagi buka komputer di kantor, segeralah simpan di office word. Kalau lagi bersosmed ria pake smartphone, simpan saja di memo. Kalu cuma bawa blocknote ya langsung catat saja. Kalau nggak bawa pulpennya, ya pinjemlah. Yang penting, segera tangkap. Karena beberapa menit lagi, bisa jadi ia sudah melesat.

Oke lanjut...
Kalu sudah ditangkap terus diapain?

Kalau sudah ditangkap, segeralah dikandang. Kandang tak perlu ideal. Yang penting bisa untuk mengembangkan ternak nantinya. Kalau punya laptop atau komputer itu lebih baik. tapi kalau hanya sebatas buku kosong juga tidak masalah.


Saat sudah masuk kandang ini lah proses berternak sudah dimulai. Maka tahap awal, segeralah membuat konsep. Mau sekedar penggemukan atau diperanakkan silahkan. Terserah ente saja lah. Kalau ide yang sudah dikandangin mau dikembangkan sebatas jadi cermin yang cuma beberapa kata oke. Karena mungkin lagi nggak ada waktu buat berlama-lama depan laptop. Bisa juga kembangkan jadi cerpen. Atau jadi cerbung yang nantinya bisa jadi novel. Jadi jangan terlalu muluk-muluk. Semampu saja. Tapi tetap harus lanjut nernaknya. Kalau nggak lanjut, ya si ternak nanti bisa mati tersiksa atau mati kelaparan. Kan kasian tuh. Mending dilepas saja.




Kalau punya kandang ideal. Seperti laptop atau komputer misalnya. Itu sangat enak memeliharanya. konsep tahap awal bisa dibuat global terlebih dahulu. Cukup dibuat dalam bentuk folder-folder khusus. silahkan beri nama yang bisa memotivasi. Misal, "proyek kepenulisan". Isinya, 1. Novel berjudul..... 2. Buku remaja berjudul.... 3. Cerpen berjudul....dan seterusnya.

Selanjutnya buatlah konsep yang lebih mendetail. Kalau banyak pilihan, ambilah satu ternak yang paling diminati pasar dan paling mudah prosesnya. Dan juga ringan biayanya. sangat sulit jika harus digarap semua. Apalagi kalau masih merintis. Jangan sampai over load. Karena nanti bisa meledak.

Sampai tahap ini mungkin mulai banyak amunisi yang harus disiapkan. karena dalam membuat konsep yag detail, diperlukan riset. Bisa dengan banyak membaca, banyak konsultasi, mencari perbandingan dari konsep sederhana yang sudah kita buat.

Jika konsep sudah matang, segeralah masuk ke tahap pengembangan. Kasih konsentrat jika untuk penggemukan. Atau segeralah dikawinkan jika untuk dikembangbiakan. Sampai tahap ini refernsi sangat dibutuhkan. Kalau saat menyusun konsep tadi, referensi mungkin hanya sebatas membaca daftar isi. Tapi kalau dalam proses penggarapan harus samapi bisa mengambil sebuah kesimpulan, data, maupun dalil otentiknya. Ibarat sebuah ternak tadi,  tanpa konsentrat hanya akan menghasilkan ternak kurus tak berkualitas. Bibit banyak tapi bukan unggulan. Jadi ya maaf saja kalau sampai ditolak di pasaran. lha ternaknya penyakitan.




Kalau riset sudah, referensi sudah, semua hal untuk pengembangan sudah? Terus ngapain lagi?

Ingat!! Perjuangan belum selesai. Masih banyak tantangan di sana. Bisa dari ternak itu sendiri maupun peternaknya. Ternak mungkin saja terkena wabah. Hilang nafsu makan atau bahkan keracunan. Jadi kita harus peka dan tanggap.

Atau bisa jadi peternaknya yang bermasalah. Salah mengambil keputusan dan tindakan. Berternak hanya sebatas sampingan. Atau malah sebuah pelampiasan. Eh giliran jadwal makan malah kelupaan. Masih ingat kolektor anjing yang mati dimakan ternaknya sendiri? Seorang penulis bisa saja akan mengalami tahap itu. Sorang Younus At Tsouly yang memiliki anonim irhaby 007? Sang Legenda Cyber Jihad yang harus dipenjara karena menulis buku "Menjadi Hacker Muslim". Atau Adnan Oktar yang terkenal dengan sebutan Harun Yahya yang mendapat intimidasi lantaran berusaha menguak kaum Anti Tuhan?

Itulah sebuah tantangan menjadi seorang peternak. okelah itu hanya sebatas ancaman dari luar. Tapi sering kali kejenuhan dalam dunia kepenulisan menjadi sebuah momok terseniri. Mood yang kadang datang dan pergi semau sendiri. Padahal seharusnya sang penulislah yang mengaturnya. Data lenyap digondol maling. Atau yang lainnya. Yang terpenting adalah, kita harus menyadari bahwa ide kita tengah mati gaya. Ide kita tengah terserang penyakit. Jadi harus segera diobati.

Maka selanjutnya, tatkala hewan ternak kita sedang terkena wabah, segeralah cari obatnya. Cari solusinya. Banyak cara melakukannya. Bisa dengan banyak membaca pengalaman, orang-orang yang sudah sukses di dunia peternakan. Atau konsultasi langsung dengan mereka. Bisa juga gabung bersama komunitas mereka. Itu penting.

Penulis juga harus seperti itu. Apalagi ketika jam terbang masih dihitung dengan jari. Atau baru memulai. Mencari motivasi sangat penting.

Bergabung dengan komunitas kepenulisan, baik maya maupun nyata, itu sangat banyak manfaatnya. Apalagi bagi pemula, bagi senior pun dibutuhkan juga. Ingat..sapu lidi hanya bisa bekerja maksimal saat bersama. Jika hanya satu batang, meski bisa, pasti hasil tetap berbeda. Betapa banyak penulis besar yang lahir dari sebuah komunitas.

Jangan lupa juga, konsultasikan karya kita pada Sang Pemguasa. Seperti imam bukhari yang saat hendak mencantumkan satu hadits dalam Shahihnya selalu didahului dengan shalat istikharah. Sehingga banyak hadits yang sebenarnya shahih, tapi tidak tercantum dalam bukunya. Hal ini karena hasil istikharah yang tidak mengizikannya. Jadi.. istikharah bukan hanya dilakukan saat milih pasangan saja. Saat hendak menulis pun perlu melakukannya. Sehingga apa yang kita tulis mendapatkan keberkahan. MAsih ingat pembahasan tentang niat kemari sobat?? Ya begitulah.

Oke... itu sekilas obat yang bisa dipakai sebagai penawar. Selanjutnya... setelah proses sudah terlewati semua, finishingnya adalah dengan memanennya.

Ya panen. Kalau sudah selesai semua segeralah dipersiapkan untuk dipanen. Karena setelah dipanen tentu kita akan menjualnya.

Maka di sini, kita harus sudah memulai riset target distributor. Biarlah nanti sang distributor yang memanen kemudian memasarkannya. Produk yang berkualitas pasti bisa menembus distributor besar. Kalau hanya diecer sendiri, ada dua kemungkinan. Bisa karena salah membidik distributor. Atau produk kita yang gak dilirik sama distributor.  Meski terkadang juga, distributor sendiri yang menganggap sebelah mata. Tak mau menilainya. Kalau seperti ini ya sabar. Jangan putus asa. Buku Negeri Lima Menara juga pernah ditolak penerbit. Karena menganggap isi tak memiliki peminat. Tapi nyatanya bombing juga.

Dalam kondisi seperti ini, orientasi sangat mentukan. Bersabar atau mati!! itu saja.

Penulis pengecer adalah yang terlalu semangat menerbitkan secara indi. Patah semangat karena membidik penerbit mayor ditolak terus. Tapi ingat!! Sekarang banyak jalan menuju Roma. Mengecerkan tulisan melalui dunia maya adalah salah satu peluang dengan minim modal tapi banyak diminati pasar.

Asalkan ya tadi, kembali ke produk dan bagaimana caranya promosi. Keduanya seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Dan yang terpenting lagi, Niat dan istiqomah. itu saja.

Okelah. Daripada berpanjang kata. Saya cukupkan sampai di sini saja. Ngomong-ngomong soal penerbit mayor, in sya Alloh BAM sedang merencanakannya. Kalau mau cari sendiri ya silahkan. Kalau mau tahu rahasisanya, nanti kita bahas pada kesempatan berikutnya.

Untuk pemula yang masih bingung memulai mengembangbikannya, nanti bisa kita diskusikan pada kesempatan berikutnya.

Pesan saya, sebagaimana para salaf berpesan, "ma kaana yasiiru minal qolbi, fayasiru ilal qolbi." Sesuatu yang berasal dari hati maka akan sampai ke hati juga. maka, menulislah dari hati. "From heart," Begitu kata sang penerbit kepada si Penulis Hantu dalam film "Host Writter".

Mataram, 17-05-2016
Untuk Anggota BAM Se-Nusantara

Seorang INTROVERT yang Menyukai Dunia Blogging Di akhir tahun 2015 samapi dengan sekarang, yang sedang Belajar  Mengenal Dunia Blogging dan Harapan Ingin Menjadi Seorang "Blogger Profesional & Blogger Preneur". (23/8 bangoji.net)

Silahkan Berikan Komentar Relevan Untuk Artikel Ini
¤ Tidak Nyepam
¤ Tidak Promosi
¤ Tidak Menyematkan Link Aktif

Akan dihapus Spam, Promosi dan Link Aktif

*Diperbolehkan Untuk Diskusi dan Sharing Dikolom Komentar
EmoticonEmoticon